Temaram Kampung Halaman Terkikis Gemerlap Metropolitan

Beberapa waktu yang lalu, dengan bermodalkan ijazah SMA yang bernilai harapan, berangkat ke kota besar meninggalkan kampung halaman. Dengan menumpang tinggal sementara pada kerabat yang ada di kota tujuan, tekad dibulatkan demi sebuah impian.

Berbalut gaya kampungan dan keluguan yang melekat sebagai identitas asal, mencoba berjuang di tengah jutaan orang yang mencari peruntungan hidup. Jarak tempuh bukan suatu halangan, bahkan penampilan pun belum terlalu dipikirkan. Masih fokus dengan tujuan.

Proses berjalan, nasib baik berpihak, lamaran kerja diterima. Dengan penuh rasa haru dan bangga mengabarkan kepada orang tua bahwa keberuntungan didapatkan mengalahkan jutaan harapan lainnya.

Cerita Baru Dimulai

Hangatnya mentari pagi selalu setia menemani seragam impian menuju kesibukan, disambut senja yang menunggu untuk menjemput pulang. Lelah selalu terhapus oleh semangat dan senyum, serta upah yang layak dengan menerima gaji setiap bulan.

Bangga, bahagia … pastinya.

Waktu terus bergulir, namun peradabannya berbeda jauh dari nuansa kampung halaman. Baik itu udara, suasana, terlebih gaya hidup yang ada.

Sadar tak sadar, penampilan yang dulu terabaikan demi sebuah tujuan, kini mulai KINCLONG dengan berbagai POLESAN. Gaya hidup yang dulu bersahaja ala DESA, kini sedikit dipaksakan berubah kekinian ala METROPOLITAN.

Gemerlap Metropolitan

Lupa Awal Cerita

Terkejut dengan keadaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, perlahan KELUGUAN yang dulu melekat sebagai identitas asal kini mulai memudar, bermigrasi kearah KELAGUAN (belagu or banyak gaya).

Ia mulai lupa akan sejuknya udara pegunungan, Ia mulai lupa hijaunya hamparan sawah membentang, Ia mulai lupa teman kecil saat mandi di sungai, Ia mulai lupa damainya temaram kampung halaman, Ia mulai lupa daratan.

Metropolitan
Hangatnya kebersamaan sewaktu di desa

Begitu mudah semua terlupakan oleh gemerlap kehidupan. Sadarkah bahwa SERAGAM impian itu berangkat dari kampung halaman dengan do’a dan jasa orang-orang yang turut mengantarkanmu berada di posisi saat ini?

Ahh sudahlah … toh, dia sudah lupa!

Dan mungkin saat ini Ia tengah migrasi akal pikiran, dari sadar menjadi lupa ingatan. Selamat menikmati cerita hidup yang baru. Andai suatu hari siuman, semoga masa lalu tidak membalas dengan melupakan keberadaanmu.

#SalamTebarPesona

loading...
loading...

14 komentar untuk “Temaram Kampung Halaman Terkikis Gemerlap Metropolitan”

  1. Awal mula saya merantau aduh, kalau ingat jadi menangis. Belum banyak yang saya peroleh dari apa yang saya harapkan. ternyata memang begitu kejam ibu kota itu, keras sekali. Keindahannya tidak sebanding dengan keramahan, kalau dipikir sebenarnya lebih nyaman hidup di kampung.

    1. Yaa … kenyataan memang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang, tidak pula seindah yang kita bayangkan. Namun sepahit apapun kenyataan yang terjadi, jika ikhlas dalam menjalani, yakinlah bahwa ada hadiah indah yang terbalut dalam berbagai cerita yang kita hadapi.

  2. Merantau demi memperbaiki banyak hal, sesuai harapan, tentu tidak boleh membuat kita lupa asal usul kita terutama apabila telah sukses hehehe. Tapi kalau kita lupa, jangan sesalkan … sesuai kalimat terakhir dari pos ini: Andai suatu hari siuman, semoga masa lalu tidak membalas dengan melupakan keberadaanmu. Suerrrr suka sekali hehehe.

    1. “Dengan merantau, kamu akan tahu bahwa dunia tidak seluas pikiranmu”. Namun bilamana sukses diraih, “Jangan pula lupa bahwa dunia tidak sesempit angkuhmu”. Hehe

      Terima kasih kunjungannya, Tuteh …

      Btw, intip-intip blog cantik itu kok banyak komen yang lenyap dari peredaran yaa … hemm???

      1. Merantau selalu membawa kebaikan apabila ditujukan untuk kebaikan pula (ini menuru saya … ngasal) hwakakakaka. Wah keren itu: jangan pula lupa bahwa dunia tidak sesempit angkuhmu. Mantap!

        Btw semua komentar yang masih pakai Blogger, masih tersimpan rapi di dashboard. Karena saya pakai Disqus gara-gara belum bisa mengembalikan tombol ‘reply’ langsung di komentar yang bersangkutan. Sementara itu, belum bisa juga migrasi semua komenar blogger ke Disqus. Padahal katanya bisa. Sudah coba empat kali masih eror. Ini masih sambil mencoba 😀

        1. Hehe …
          Kirain terhapus akibat migrasi ke Disqus. Maaf, tidak bisa bantu. Tidak ada pengalaman lebih jauh di platform blogspot. Hanya bisa bantu do’a, semoga semua bisa cepat teratasi.

  3. Mau tidak mau, suka tidak suka, perubahan harus terjadi, apapun itu semoga perubahan membuat kita jauh lebih bijak…

    Jangan lupa seruput kopinya ya bang… 😀

  4. Menjadi teringat kampung halaman kalau baca begini. Saya juga harus merantau di luar pulau untuk berjuang hidup.

    1. Itu sebuah keharusan. Dengan selalu mengingat kampung halaman, kita tidak akan pernah lupa darimana asal muasal. Sukses selalu ya, Mr. Writer …

  5. tanza erlambang

    kalau belum dijalani, maka takkan tahu tantangan merantau.
    itulah bagian dari proses hidup.

    Artikel yang sangat menarik. Bermanfaat untuk direnungkan

    1. Benar sekali mas, merantau mengajarkan kita banyak hal. Hanya saja, kita tidak boleh lupa atau melupakan darimana kita berasal apabila telah sukses di perantauan.

      Terima kasih apresiasinya mas Tanza Herlambang. Sukses selalu!

Tinggalkan Jejak Anda